Jumat, 08 Februari 2013

Khutbah Jumat: 3 Peristiwa Besar di Bulan Rabi'ul Awwal dan Cara Meneladai Rasulullah


Teks Khutbah lengkap (pertama dan ke-2) bisa diunduh di sini

Jamaah Jumat rahimakumullah....

Hari ini, Jumat 8 Februari 2013 bertepatan dengan 27 Rabiul Awal 1434H, masih dalam suasana maulid Nabi Saw. Sudah menjadi kebiasaan bahwa kaum Muslim di Indonesia banyak menggelar acara maulid Nabi saw pada bulan ini tiap tahunnya. Namun sayang, yang banyak diketahui umat Islam hanya sampai itu. Padahal, pada bulan Rabiul Awal menyimpan beberapa peristiwa penting  lain yang terkait dengan perkembangan umat Islam. Bahkan, peristiwa tersebut membuat kita dan masyarakat di Indonesia menjadi bagian umat Islam di seluruh dunia. Inilah yang akan kami ulas pada khutbah jumat kali ini.

Jamaah Jumat rahimakumullah....


Peristiwa pertama yaitu maulid (kelahiran) Nabi Muhammad saw sendiri. Beliau dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 M dari Masjidil Haram pada Senin menjelang terbit fajar 12 Rabiul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Kini tempat kelahiran Nabi itu dijadikan perpustakaan “Maktabah Makkah al-Mukarramah”. Dinamai ‘tahun Gajah’ karena pada waktu itu tentara Abrahah dari Yaman menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Mereka datang dengan mengendarai gajah. Namun, mereka gagal karena Allah mengirimkan pasukan burung Ababil dari angkasa yang menghujani pasukan gajah tersebut dengan batu dari neraka. Mereka hancur bak daun dimakan ulat. Peristiwa ini pun diabadikan dalam al-Quran surah al-Fiil ayat 1 – 4.

Namun, kelahiran Nabi Saw tidak terkait langsung dengan perkembangan Islam, sebab Islam saat itu belum ada. Maulid (kelahiran) Nabi saw terjadi ketika Muhammad bin Abdullah belum diangkat menjadi Nabi dan kita tahu bahwa Beliau Saw menjadi Nabi pada usia 40 tahun.

Jamaah Jumat rahimakumullah....

Peristiwa lain di bulan Rabiul Awwal yang terkait dengan perkembangan Islam dan belum diketahui kebanyakan orang adalah hijrah Nabi saw dari Makkah ke Madinah dan wafatnya Nabi saw yang diikuti dibaiatnya Abu Bakar as-Siddiq menjadi khalifah, menggantikan Rasulullah dalam menerapkan Islam dalam bingkai institusi negara.

Peristiwa kedua di bulan Rabiul Awal adalah hijrahnya Nabi Saw. Bulan Muharram memang ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun Hijriyah. Akan tetapi, hijrahnya Nabi SAW sendiri tidak terjadi pada bulan Muharram, melainkan pada bulan Rabi'ul Awal. Dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfuri disebutkan bahwa Beliau mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin tanggal 1 Rabi'ul Awal tahun I Hijriyah (16 September 622 M). Nabi SAW sampai di Quba hari Senin tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Nabi SAW selanjutnya memasuki Madinah hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 H.

Momentum itu bisa dikatakan sebagai proklamasi tegaknya negara Islam di Madinah. Dan di bulan Rabiul Awal tersebut menjadi era baru fase dakwah setelah 13 tahun Rasulullah saw berdakwah di Makkah dengan segala lika-liku dan suka duka rintangannya. Di Madinah pula Rasul saw menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya dalam aspek aqidah, ibadah dan muamalah yang masih terbatas seperti halnya di Makkah. Di kemudian hari, Rasul pun berhasil menaklukkan kota Makkah dan memimpin masyarakat Islam hampir di seluruh jazirah Arab.

Jamaah Jumat rahimakumullah....

Peristiwa ketiga yang tak kalah pentingnya adalah wafatnya Rasulullah dan dibaiatnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam. Dalam as-Sirah an-Nabawiyah-nya, Ibnu Katsir menerangkan bahwa Nabi Saw wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Ibnu Katsir berkata, "Inilah tanggal yang dipastikan oleh Al-Waqidi dan Muhammad bin Saad”. Wafatnya Nabi Saw ini menjadi pertanda lahirnya negara Khilafah Rasyidah. Sebab pada hari yang sama, bahkan sebelum jenazah Nabi saw dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah di Saqifah Bani Saidah.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang dirintis Rasulullah tidaklah berhenti. Memang era kenabian telah berakhir ketika Rasulullah saw wafat, tetapi kepemimpinan beliau sebagai kepala negara, ditandai dengan menerapkan berbagai hukum kepada masyarakat, terus berlanjut dengan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah. Dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib. Era ini, termasuk di dalamnya Imam Hasan bin Ali, dikenal dengan era Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinan ini terus berlanjut dengan adanya Khilafah Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah di Turki hingga runtuh tahun 1924 M. Dan persatuan umat pun hingga saat ini belum terlihat kembali.

Jamaah Jumat rahimakumullah....

Mengetahui sejarah memang penting. Akan tetapi, yang lebih penting adalah mengambil hikmah dari sejarah-sejarah tersebut. Sehingga generasi kita tidak salah langkah pada hari ini dan masa ke depannya. Menyikapi sejarah umat Islam pada bulan Rabiul Awal di tadi, kami cukupkan sebuah sabda Nabi saw sebagai bahan pegangan dan renungan:
"Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku…" (HR Tirmidzi)

Lalu bagaimana kita meneladani Beliau saw dan para shahabatnya?

Jamaah Jumat rahimakumullah....

Beberapa hal berikut seyogyanya kita lakukan sebagai upaya kita meneladani Rasulullah saw:

1. Mengikuti perintah Rasulullah saw
Allah swt berfirman: 
“...Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31)

2. Memperbanyak shalawat
Firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Nabi Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali” (HR Muslim)

3. Berpegang teguh pada wasiat Rasulullah saw
Berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunah merupakan wasiat Rasulullah yang harus kita jalankan sebagaimana sabdanya:
“Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya, perkara yang jelas itu adalah kitabullah dan sunah nabi” (HR Malik)

4. Menjadikan dakwah sebagai poros utama
Rasulullah saw mencontohkan betapa dakwah menjadi poros hidup beliau. Ketika para pembesar Quraisy mendatangi pamannya untuk meminta beliau menghentikan aktivitas dakwahnya, beliau menyatakan dengan tegas, “Andai mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, maka hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di jalannya, aku tak akan meninggalkan dakwah ini” (Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, I/266)

5. Melanjutkan kepemimpinan Rasulullah – bukan dalam hal kenabian – dan kepemimpinan para khulafaur rasyidin.
Mencintai Rasullullah juga dengan melanjutkan kepemimpinannya dalam mengurus umat dengan hukum-hukum syariah sebagaimana dicontohkan khulafaur rasyidin dan generasi setelahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

"Bani Isra'il, kehidupan mereka selalu diurusi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah yang banyak jumlahnya". Para shahabat bertanya; "Apa yang baginda perintahkan kepada kami?". Beliau menjawab: "Penuihilah bai'at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka" (HR Bukhari No. 3196)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih atas masukan dan komentarnya.